Lady Gaga 'JOANNE' (Review)

Album JOANNE di ambil dari nama tengah LADY GAGA (Stefani Joanne Angelina 
Germanotta) & di ambil dari nama bibi-nya yang telah wafat.



Little Monster, alias nama penggemar untuk Lady Gaga. Maka ketika album Joanne rilis akhir bulan Oktober lalu, pastinya saya semangat banget untuk langsung mendengarkan seisi albumnya. Album Joanne termasuk ke dalam album paling di nanti di tahun 2016.
Berhubung gosipnya Lady Gaga baru “putus” dengan mantan tunangannya, Taylor Kinney, ekspektasinya, sih, album ini bakal dipenuhi dengan tipikal lagu-lagu patah hati pasca putus cinta. Galau-galau gitu, lah. Tapi ternyata... saya salah besar!
Lagu-lagu di album Joanne terasa beda banget dibandingkan lagu-lagu di album-album Lady Gaga yang sebelumnya. Nggak ada lirik-lirik pop dangkal ataupun musik elektronik edgy khas Lady Gaga. Album ini kental dengan musik yang lebih “menenangkan” seperti jazz dan country yang pas didengarkan sambil malas-malesan di kasur sebagai musik untuk menemani waktu belajar kamu. Dan menurut saya album ini sangat menyentuh hati dan membuat kita sadar bahwa hidup ini tak hanya sendirian dan ada lagu yang berjudul 'Come To Mama' yang membuat saya sadar bila Lady Gaga adalah sesorang teman, ibu atau saudara yang bisa kita andalkan saat kita mendengarkan lagu itu.


Ngomong-ngomong balik lagi ke perihal putus cinta dan mantan. Lady Gaga mengaku kalau Joanne terinspirasi dari pengalaman pribadi dan perjalanan hidup yang dia alami akhir-akhir ini, KECUALI pengalaman putus cinta, katanya.
Lady Gaga bilang, ada banyak hal yang jauh lebih penting dalam hidup ini dibandingkan berlarut-larut nangisin mantan. Makanya, “pesan” album ini cocok banget buat kamu yang abis putus dan merasa bahwa dunia berhenti berputar. Just stop thinking that way!
Lirik-lirik di album Joanne mengajarkan kamu untuk melupakan mantan dan rasa sakit hati dengan cara yang classy. Maka nggak ada, tuh, lirik-lirik semacam “buang mantan pada tempatnya!" kalian ngerti lah maksudnya...


Hadirnya ‘Perfect Illusion’ mungkin bisa menjadi salah satu penyebab. Lagu mencatat nama-nama besar seperti Mark Ronson, Kevin Parker (Tame Impala), dan Bloodpop, sehingga saat lagunya kemudian terdengar bimbang menentukan karakternya, antara pop-rock atau electro-pop ringan, ‘Perfect Illusion’ cenderung gagal membangun jembatan untuk masuk ke dalam ranah baru Gaga.
Gaga menyusulnya dengan ‘Million Reasons’, sebuah balada minimalis manis dengan penghayatan prima dari Gaga. Renyah untuk disimak, tapi tak ada yang baru. Penyanyi manapun bisa membawakan lagu ini tanpa memerlukan karakter khas. Baiklah. Jika dua track promosi terkesan kurang meyakinkan, lantas bagaimana dengan sisa track “Joanne”?
‘A-YO’ single promosi Gaga berikutnya bisa menjawab kekurangan dua track tadi. Ia merupakan perpaduan pas antara sisi pop dan rock Gaga. Catchy dan gritty secara bersamaan, sementara beatenerjetik lagu bisa menjadi teman dansa, baik bagi penggemar lagu dance atau rock. Sebagai tambahan, ada pula ‘Dancin’ In Circles’ yang mengembalikan kenangan ke zaman “The Fame Monster” atau “Born This Way”, dimana electropop Gaga terdengar lebih tajam dan edgy. Tidak heran, karena ada Beck yang membantu menulis lagunya, selain Ronson tentu saja.
Selebihnya “Joanne” mengajak pendengar untuk larut dalam retrospektif rock berbalut folk atau pop melalui lagu-lagu seperti ‘Sinner’s Prayer’ atau ‘Come to Mama’. Lagu-lagu yang seolah menjadikan Gaga sebagai penyanyi yang berasal dari era lawas dengan segala melankolianya. Hadirnya Father John Misty membantu dalam track ‘Sinner’s Prayer’ jelas memberi highlight tersendiri. Sementara balada lain dalam “Joanne”, juga berjudul ‘Joanne’, dengan gemilang memamerkan kekuatan Gaga sebagai penembang pop-folk yang berkarakter.
Ada sentuhan manis dengan hadirnya Florence Welch sebagai tandem vokal bagi Gaga dalam track pop-retro lain, ‘Hey Girl’. Harus diakui jika vokal Welch memang lebih mencorong dibandingkan Gaga, tapi dinamika dan chemistry di antara mereka terasa hadir dengan pas, sehingga lagu yang berkisah tentang solidaritas antara sesama perempuan ini terasa hidup dan melenakan.
Mark Ronson dan Bloodpop adalah partner Gaga dalam mengerjakan “Joanne”. Padahal sebelumnya disebut-sebut jika Gaga kembali mengajak RedOne, produser dan musisi yang membantu membesarkan namanya melalui “The Fame” turut menyumbangkan karyanya. Ternyata ‘Angel Down’, track di mana RedOne hadir menyertai Gaga. Hanya saja jangan harapkan track electropop lainnya dari kolaborasi mereka, karena ‘Angel Down’ justru adalah sebuah balada yang melantun lembut. Jangan tertipu dengan embel-embel “work tape” untuk ‘Angel Down’ yang terdapat di seksi bonus track edisi bonus, karena merupakan versi yang lebih lirih dan pendek.
Untuk edisi deluxe sendiri, selain ‘Angel Down (work tape)’, ada dua track lain sebagai sisipan. Pertama adalah ‘Grigio Girls’, dimana fusi rock, pop dan folk memadu dengan meriah namun senantiasa dalam tone membumi dan laidback. Hanya saja sulit dihindari kesan jika lagu ini juga pastinya akan tetap menjulang jika dihadirkan dalam versi electropop yang lebih up-tempo atau bahkan EDM. Sementara ‘Just Another Day’ adalah contoh sempurna untuk membayangkan Gaga membakan lagu-lagu dalam “Joanne” secara live, dimana ia membawa suasana live-jamming dengan kuat dalam lagunya.
Sebagai kesimpulan, adalah salah jika menyebut “Joanne” sebagai hit-and-miss, mengingat persentase hit lebih besar dibandingkan dengan miss. Sangat jauh lebih besar memang sehingga jika “Joanne” diniatkan sebagai upaya Gaga untuk memformat ulang imaji dirinya, bagai ia salah sebuah upaya sukses. Sebuah transisi yang patut mendapat aplaus, Lady Gaga membuktikan jika ia sudah tidak perlu lagi memamerkan gimmick yang meriah atau atraksi teatrikal dalam musikalitasnya.

Meski mungkin melalui “Joanne” ia akan sedikit sulit mempenetrasi pasar lagu pop yang lebih mainstream, sebuah aral agar album bisa menyandung status blockbuster sebagaimana album-album Gaga sebelumnya, namun setidaknya kini ia telah mengasah sosoknya menjadi seorang penyanyi sekaligus musisi handal yang matang sekaligus visioner. Terlepas dari itu, mari kita sambut dengan hangat sosok baru Lady Gaga ini. Dipastikan pula jika jalan “Joanne” adalah membentang menuju status sebagai salah satu yang terbaik dari dirinya.
Dari album Joanne, berikut tiga pelajaran hidup yang bisa kamu ambil dari pengalaman Lady Gaga setelah putus cinta ataupun merasa sendirian saat menghadapi masalah hidup.
1. Lebih baik fokus kepada hal-hal positif dalam hidup


Iyah, paham, putus cinta tuh emang berat. Tapi salah banget kalau gara-gara putus cinta, kamu jadi merasa hidup kamu jadi nggak berarti lagi.
Dalam wawancaranya di salah satu stasiun radio, Lady Gaga bercerita bahwa judul album Joanne diambil dari nama tantenya yang sudah wafat karena penyakit Lupus. Selama masih hidup, Tante Joanne nggak pernah berhenti menyerah untuk melawan penyakitnya. Beliau bahkan nggak mau menunjukkan penderitaannya, karena dia percaya hal itu hanya akan memperburuk keadaan—baik dirinya sendiri maupun pada orang-orang di sekitarnya.
Nah, dari tantenya tersebut, Lady Gaga sadar bahwa masih banyak hal positif yang patut disyukuri dalam hidup ini, daripada terus-terusan meratapi kenyataan yang pahit. Gaga pun lebih memilih untuk fokus kepada hal-hal tersebut.
Mantan itu cuma sepersekian persen dari keseluruhan hidup kamu, gaes. Nggak ada do’i, bumi masih berputar, dan masih banyak orang di sekitar kamu masih bisa membuat kamu tersenyum.
Diberi judul 'Perfect Illusion' yang berati ilusi yang sempurna membuat kita sadar bahwa cinta bukanlah segalanya dan fake fans katanya yang pernah membuat ia merasa jatuh karena sebelumnya di album Artpop para para fans nya ada yang meninggalkan dia.
2. Lakukan apa yang membuat kamu senang

Album Joanne banyak dikritik oleh para penikmat musik Lady Gaga yang terdahulu. Katanya, sih, musiknya "nggak Lady Gaga banget".
Padahal Joanne terinspirasi dari hal-hal positif yang membuat Lady Gaga bisa ngelupain sedihnya setelah putus.
Dengan menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-temannya, Gaga mempelajari banyak hal baru yang membuat hidupnya lebih berarti, seperti persahabatan dan kekeluargaan yang dituangkannya dalam lagu-lagu seperti Grigio Girls, Come to Mama, dan Joanne. Dan dia mengaku enjoy banget menggarap album ini, nggak seperti album-albumnya  terdahulu yang dia anggap “musik pop yang enak didengar, tapi terasa kosong”.
Lagian, kalau kamu membuat sesuatu yang kamu suka, tapi merasa karya kamu tersebut nggak disukai orang-orang, ya udahlah. Selama kamu nggak mengganggu mereka, who are they to judge?
3. Harapan itu masih ada!

Sehabis putus, biasanya kamu ngapain, sob? Nangis di bawah hujan? Dengerin lagu sendu? Delete semua kontak mantan? Jelek-jelekin do’i? Play victim?
Kalau kamu udah dengerin lagu Perfect Illusion, kalem dulu, lagu itu nggak bermaksud untuk nyinggung sang mantan, kok. Menurut Lady Gaga, setelah putus baik-baik, nggak ada alasan buat Gaga untuk menjelek-jelekan mantannya ataupun mengasihani dirinya sendiri. Bahkan dia stay positive dan percaya kalau harapan untuk memperbaiki keadaan itu masih ada!
Nggak percaya? Coba, deh, dengarkan lagunya yang Million Reasons. Walaupun ada banyak alasan klise yang bikin kamu mau ninggalin pacar kamu, kamu cuma butuh satu satu alasan yang membuat kamu mau tetap bertahan. 
Buat kalian yang ngerasa  A Loyal Little Monster segera download Joanne di itunes atau streaming di spotitify sekarang! Kalian yang bukan penggemar lady gaga ga akan nyesel dengerin lagu-lagunya karena hampir semuanya enak di dengar dan membuat chills ...


TRACKLIST JOANNE


Joanne standard edition track list:
1. Diamond Heart
2. A-Yo
3. Joanne
4. John Wayne
5. Dancin’ In Circles
6. Perfect Illusion
7. Million Reasons
8. Sinner’s Prayer
9. Come To Mama
10. Hey Girl ft. Florence Welch
11. Angel Down
Joanne deluxe edition songs:
12. Grigio Girls
13. Just Another Day
14. Angel Down (Work Tape)

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lady Gaga 'JOANNE' (Review)"

Post a Comment